Stick to the rule

Saya dan Afni anak pertama sudah membuat kesepakatan bahwa main gadget di hari weekend. Namun weekday boleh nonton TV kartun sepulang sekolah dan sepulang ngaji, masing-masing durasinya 30 menit sampai 1 jam. Akan tetapi kalau saya kelupaan menaruh HP dan berhasil ditemukan, terkadang langsung disambar untuk menonton.

Saya coba ingatkan baik-baik. “Kakak, ingatkan kesepakatan kita main gadget hanya di hari weekend ya. Mama khawatir kalau terlalu sering menonton dari HP bisa menambah minus mata dan menjadi pusing.”. Kemudian “hari ini boleh nonton tapi di TV, Kakak bisa nonton Nick JR sambil main lego”. Berusaha untuk selalu konsisten dengan peraturan yang disepakati. Karena itu akan dijadikan patokan oleh anak, apabila kita plin plan, anak akan menjadi bingung mana yang harus ia ikuti dan mana yang ia bisa langgar.

Namanya anak kelas 1 SD dan usianya baru 6 tahun. Dimana transisi antara bermain dan keseriusan belajar. Di satu sisi anak sudah besar, sudah bisa mengerti aturan dan waktu, sudah mengerti kondisi saya berada di mana dan saya siapa. Namun, di sisi lain kebutuhan akan bermainnya masih sangat banyak.

Advertisements

Terima kasih pertama, maaf kemudian

Apakah moms pernah tidak sengaja teledor janji dengan anak. Misalnya kita menjanjikan akan menjemput jam 5 sore, akan tetapi karena suatu hal, kita bisa datang jam 5.30. Atau ketika kita pergi sebentar dan anak meminta dibawakan oleh-oleh dan ternyata kita lupa atau oleh-oleh yang mereka inginkan tidak ada. Anak itu manusia yang sangat bisa dipercaya dan mereka tentunya akan meniru kita apabila kita tidak memenuhi janji tanpa penjelasan. Mereka akan ingat.

 

 

Hal pertama yang saya ucapkan adalah terima kasih, karena saya menghargai kesabaran mereka ketika menunggu kita, kemudian mereka ada rasa “pride” dan dihargai ketika kita berterima kasih, artinya mereka telah memberi waktu dan kita menerima. Baru setelah itu meminta maaf, sebagai tebusan kesalahan kita.

 

 

Selain itu, ketika anak-anak berhasil menjalankan tugas yang telah kita delegasikan. Sebisa mungkin kita tidak lupa mengucapkan terima kasih. Kemudian, minta maaf mengapa pekerjaan itu diserahkan pada anak.

 

 

Terima kasih Kakak sudah mau bersabar, maaf tadi ternyata tadi ketika masak, kompor gas nya habis”
Terima kasih Kakak sudah mau mengambil paket dari abang gojek, maaf mamah tadi masih mandi tidak bisa ambil.”.

 

 

 

 

Insyaallah dengan demikian anak akan sangat merasa dihargai dan tetap ceria.

 

 

Menikah adalah kompromi

 

 

Walaupun kami sudah menikah selama 7 tahun, namun tetap kualitas komunikasi di antara kami masih harus terus diperbaiki. Saya sadar terkadang sebagai wanita berharap suami mengerti tanpa harus diberitahu.

 

 

Berdasarkan buku “Men are from Mars, Women are from Venus” dijelaskan bahwa wanita ketika ada masalah bercerita untuk dimengerti. sedangkan pria fokus pada solusi tidak memperhatikan perasaan. Padahal wanita hanya ingin diberi perhatian.

 

 

Menikah berbeda budaya (sunda dan jawa) juga ada sedikit banyak perbedaan nilai-nilai, terutama ketika melibatkan keluarga extended. Untungnya kami sama-sama merantau ke kota (tsaaah), jadi kebiasaan kami di rumah sudah ber-asimilasi.

 

 

Begitu pula dengan komunikasi. Saya harus masih banyak belajar. Bahwa suami bukanlah peramal yang tiba-tiba tahu tanpa diberitahu apabila ada yang kurang, ada yang ingin dia lakukan untuk kita. Contoh sederhana soal pembagian tugas di rumah. Saat ini mungkin ada mbak yang bantu membersihkan rumah, namun soal anak-anak inginnya kami bagi berdua agar sama-sama tahu sejauh mana perkembangan belajar anak.

 

 

Akan berbeda kondisinya apabila kami mungkin tinggal di luar negeri. Saya sudah mengatakan bahwa kalo tinggal di negeri orang, semua dikerjakan bersama—sama. tidak ada asisten. Suami menjawab, tolong beritahu dengan jelas tugasnya, sabar dan pelan-pelan beri tahu-nya, hindari asumsi dan set ekpektasi sama-sama.

 

 

Selain itu, hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan ada yang bersifat wajib, ada yang dimaklumi. Misalnya menutup pasta gigi setelah digunakan. Simple dan remeh temeh kan? Tapi dua insan menyatu bisa berbeda dalam hal tersebut. Ya sudah saya yang maklum kalo memang kebiasaannya suami tidak menutup kembali pasta giginya. Terus, sambutan ketika suami pulang kerja. Mungkin kita sedang asik main hp, sedang asik masak, tapi itu ternyata sangat berarti buat suami.

 

 

Berdasarkan buku “Men are from Mars, Women are from Venus” beberapa tips men – women relationship:
  1. terima pasangan apa adanya
  2. saling mengerti, percaya dan bisa bekerja sama
  3. saling menghargai dan mendukung
  4. kemukaan perasaan negatif dalam situasi yang tepat (ditulis lebih dulu lebih baik)
Infographic Mars vs Venus

 

 

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#instiutibuprofesional

Surprise yang under expectation

Selepas ngaji sore tadi, anak-anak mulai masuk ke rumah karena sebentar lagi adzan magrib. Namun, kebiasaan sepulang ngaji menyalakan TV, jadinya waktu sholat jadi mundur. Karena mereka meminta makan sambil menonton TV. Apabila diminta untuk sholat terlebih dahulu. Alasanya adalah lapar.

 

Jadwal harian setelah jam 6 adalah sholat, makan, dan nonton TV. Jam 7 sudah mulai mengerjakan PR. Akan tetapi karena tidak ada jadwal tidur siang dan pagi-pagi harus bangun kembali. Jam 7an itu mereka sudah mulai mengantuk. Sesi mengerjakan PR ini adalah ujian terberat untuk saya selain sesi menyiapkan sekolah. Mengapa? Karena harus pintar cari ide menjaga mood anak tetap semangat dan happy kala mengerjakan tugas. Terkadang mereka merasa demotivasi, merasa kecapean, stres, menyerah. Saya gemaaas sekali. Kalau sumbu sabar tidak panjang, bisa-bisa keluar kata-kata dengan nada tinggi. Sight :(.

 

Tadi malam, sebelum sholat saya bilang “Mommy punya kejutan buat Afni, nanti dikasi kalo PR sudah selesai ya”. Afni setuju. Setelah makan, langsung menanyakan mana hadiahnya? Saya jawab nanti abis PR. Setelah sholat juga menanyakan kembali, saya jawab “tunggu ya mommy makan malam dulu”. Afni malah makin cranky “aaah kalo aku bosen aku bisa marah-marah gimana kalo aku marah-marah?”. Hmm.. tahan nafas dan sabar.

 

Akhirnya, saya luluh juga hadiah diberikan setelah saya makan. “Ayo apa hadiahnya?”, saya buka kulkas dan tunjukan es krim matcha kesukaannya. Wajahnya langsung cemberut “i thought it was a toy”. Saya coba bujuk lagi “Coba dl ini kan kesukaan Afni, yuk makan bareng-bareng biar moodnya bagus lagi”.

 

Alhamdulilah setelah makan es krim bareng-bareng, senyumnya terbuka lebar, pelukan lagi. Dan siap mengerjakan PR. Ganbatte!!!!

 

IMG_5535

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#instiutibuprofesional

Mendelegasikan tugas kepada Kakak Afni

Kakak Afni yang sekarang berusia 6 tahun dan masuk kelas 1 SD, alhamdulilah secara emotional sudah cukup dewasa. Sudah bisa diberi kepercayaan tugas. Asalkan permintaanya jelas, dan ketika selesai tepati apabila kita berjanji. Contohnya, “Kakak tolong titip adik, mommy mau lari sore dulu, kalau mau telp pencet tombol yang ini, dan mommy akan pulang 30 menit lagi”. Maka pastikan kita mudah dihubungi dan tepat janji pulang di 30 menit kemudian.

 

Selain itu, Kakak sudah mulai bisa dipecayakaan mengambil barang apabila ada kurir atau abang gojek tiba mengantarkan paket. Sudah tidak malu apabila harus berbicara pada orang. Terkadang kakak juga sudah bisa cuci piring hehe.

 

Kakak Afni sudah pintar juga main dan jaga adik ketika di playground. Biasanya mommy-nya pergi ke gym dan anak-anak bermain di playground. alhamdulilah selama ini berhasil juga ditinggal di playground. Kalau soal tanggung jawab akan sholat, PR, dan mainan bekas pakai masih harus diingatkan kembali.

 

Jadi tidak ada salahnya mulai mempercayakan sebagian tugas kepada kakak. Dengan kunci perintah yang jelas singkat dan tepati janji kita apabila kita menjanjikan sesuatu di akhir tugasnya.

 

IMG_4520

 

Komitmen pada jadwal harian

AFNI_S DAILY SCHEDULE icon
Kakak Afni mulai memasuki SD, dan mempunyai kegiatan rutin harian. Dari mulai bangun pagi sampai tidur kembali. Beberapa waktu yang lalu kita sempet diskusi mengenai jadwal hariannya dia. Jadwal harian sudah dibuat, disepakati. Namun pelaksanaannya terkadang masih belum komit. Misal mamanya bisa jadi molor waktu karena masak kelamaan, sehingga waktu makan malam jadi mundur.

 

Aktivitas yang membutuhkan komitmen tinggi yakni mengerjakan PR dan kumon. Subhanallah. Butuh amat sangat extra sabar dalam mengingatkan, membimbing, menemani Afni dalam mengerjakan PR ini. Terkadang juga terbawa emosi karena kemalasaannya, yang ada aja alasannya.

 

Pada posting kali ini terkait komunikasi produktif. Terkadang saya perlu memutar otak untuk membuatnya in mood mengerjakan PR. kalo mood saya lagi baik. Kalo mood saya lg jelek, terkadang intonasi dan perkataan tidak dijaga. Menyesal memang. Tapi itu cara shortcut agar didengar dan dilaksanakan oleh Afni.

 

Selain PR, yang menjadi tantangan adalah mengingatkan untuk sholat. Ada saja alasannya apabila diminta untuk sholat apabila anak tidak in mood. Jalan pintasnya ancaman lagi. Akan tetapi saya selalu ingatkan bahwa sholat adalah perintah Allah tiang agama, berlatih dari sekarang karena memasuki usia 7 tahun, ayah boleh memukul anaknya menggunakan 3 lidi di kakinya apabila anak tidak mau sholat.

 

Mudah-mudahan dengan adanya kelas komunikasi produktif ini bisa memperbaiki cara saya berkomunikasi dengan anak. walaupun masih harus banyak belajar dan perbaikan. Teruatama mengendalikan emosi dan mood.

Faiz 100% bebas popok

Ketika anak bungsu beranjak besar, dan belajar untuk melepas popok terutama di waktu malam, yeaay rasanya senang sekali. Bisa berhemat lumayan dari uang popok. Walaupun prosesnya secara bertahap. Pertama-tama dilatih siang hari di rumah tidak memakai popok. Ini ujian paling berat, karena harus cape ganti celana dan ngepel lantai. Semangaat, jangan menyerah. Sedangkan bepergian dan tidur malam masih memakai popok.

 

Di tahap awal itu, terus selalu memberi motivasi “Faiz sudah besar, anak besar pipisnya di toiiiiilet”. Sampai sekarang Faiz menyebut “TOILET” masih “TOLIET”. Cape deh Faiz.

 
 

Tahap ini juga, ketika pergi ke sekolah (Play Group), sudah tidak memakai popok lagi. Faiz lumayan sering pipis di sekolah, mungkin bisa sampai 3x. Tapi saya yakin, miss-nya sabar (maafin ya miss) dan memberi motivasi yang membangun juga untuk Faiz belajar.

 
 

Kemudian, tahap kedua, kala bepergian mulai tidak memakai popok. Sebagai latihan ketika diajak ke mall terdekat di kota Depok tercinta. Namun, setiap kali sampai di mall, langsung kita ajak ke toilet. Sebelum melakukan aktifitas apapun. Hal ini sekaligus mengenalkan toilet selain di rumah. Tantangannya, harus rela mengantar ke toilet kala siap menyantap makanan, atau kala asik belanja. ya nasib. Kalo telat sedikit, bisa-bisa pipis di celana. T_T.

 
 

Dan tahap terakhir yakni melepas popok saat tidur. Ini juga tantangan berat. Dalam satu minggu bisa 3-4 kali ganti seprei. Yang menderita si mbak yang beres-beres di rumah (maaf ya Mbak, jadi banyak cucian seprei-nya). Di sini juga anak diberi motivasi “Faiz sudah besar, tidak ngompol lagi ya, kalo mau pipis sekarang sebelum tidur”. Bapaknya sempet galak sih dengan memberi ancaman (oh No!! Jangan ditiru ya) “Faiz, kalo masih ngompol terus tidur di luar sama bekicot”. Sampai anaknya nangis ketakutan. Tapi ampuh juga. Pernah tidak sengaja masih mengompol, namun intervalnya sudah sangat jarang. Faiz bangun ketakutan, takut harus tidur sama bekicot. Bapaknya tetap konsisten. “Lihat di luar, ada bekicot kalo Faiz masih terus ngompol”.

 
 

Alhamdulilah tidak lebih dari 2 bulan Faiz sudah bebas dari popok. Sekarang usia Faiz 4 tahun 2 bulan.  Sudah bisa pipis sendiri ke kamar mandi. Dari mulai menyalakan lampu kamar mandi, membuka celana, pipis, flush, cebok, dan memakai celana kembali.

 

 

 

 

IMG_3925