Leadership Passage Part 2: Leading Others and Up

Setelah pembahasan leadership bagian pertama, saatnya masuk bagian bagaimana menjadi seorang leader bagi orang lain, baik tim dan keluarga. Salah satu tokoh leadership yang pernah kami wawancarai, yakni Pak Subhi, beliau adalah seorang leader di suatu konsultan akuntasi, menyatakan bahwa semakin tinggi jenjang karir seseorang, seiring dengan semakin berat tanggung jawabnya baik secara personal maupun profesional.

Dalam kehidupan personal, ditandai dengan memenuhi peranan dan tanggung jawab sebagai seorang suami/istri, ayah/ibu, dan anak; dan di saat yang sama, di tempat bekerja dituntut untuk mampu bertanggung jawab secara baik kepada stakeholders (atasan, bawahan, rekan kerja, klien) yang jumlahnya semakin banyak.

Jenjang karir yang semakin tinggi ke atas tidak hanya membawa peran dan tanggung jawab yang lebih banyak, tetapi juga tantangan yang lebih besar. Jika di awal masa kerja, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengelola suatu pekerjaan atau proyek tertentu (managing project), maka seiring dengan meningkatnya jenjang karir, tantangan utama yang dihadapi bergeser menjadi bagaimana mengelola orang lain (managing people).

Tantangan yang berbeda tentunya harus dihadapi dengan skill dan kemampuan yang berbeda pula. Berbeda dengan ketika menghadapi tantangan mengelola suatu pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan hard/job skills, seperti kemampuan dan pengetahuan teknis tentang bagaimana pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan baik dan benar, tantangan dalam mengelola orang (managing people) lebih banyak membutuhkan soft skills seperti kemampuan berkomunikasi dan keahlian interpersonal. 

Tantangan yang muncul menjadi semakin kompleks ketika jenjang karir terus meningkat ke atas. Pada posisi yang lebih tinggi, tidak saja tantangan dalam mengelola orang yang harus dihadapi, tetapi juga tantangan dalam mengelola konflik (managing conflicts).

Posisi yang lebih strategis umumnya juga akan menempatkan seorang pemimpin dalam interaksi yang lebih intensif dengan pihak eksternal (dalam hal ini klien), dan sering kali menuntut pemimpin untuk mampu menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan klien dan pencapaian tujuan perusahaan (managing clients). Benturan kepentingan antar pihak, baik internal maupun eksternal akan semakin sering terjadi, dan seorang pemimpin harus mampu memandang kondisi tersebut sebagai hal yang bersifat konstruktif.

leadership-mountain-climbing

Lead by Example source : lifeatwalsh.com

Beberapa tips yang telah Pak Subhi sharing kepada kami, bagaimana menjadi seorang leader dalam menjalankan managing people, antara lain:

  • passing knowledge

Menurut Pak Subhi, kepemimpinan (leadership) adalah tentang bagaimana meneruskan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain yang berada di bawahnya (passing the knowledge). Subianto masih ingat betul bagaimana dulu sebagai pendatang baru di dalam tim nya, ia mendapat begitu banyak bimbingan dan arahan dari para senior serta manajer yang membuatnya seperti saat ini. Pada akhirnya, di posisi sebagai seorang pemimpin kini, Subianto merasa bahwa memberi bimbingan dan arahan seperti apa yang pernah ia dapatkan dulu menjadi tanggung jawabnya pula untuk diteruskan kepada bawahannya, sembari memastikan bahwa ilmu dan pengalaman yang ia miliki dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

  • holding hands and nurturing

Pak Subhi menyatakan bahwa selalu ada pengalaman pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Bercermin pada apa yang pernah dialaminya dulu, ia sangat memahami bahwa setiap anak buahnya yang melakukan segala sesuatu untuk pertama kali, perlu mendapat arahan dan bimbingan terlebih dahulu. Menurutnya, dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kemauan yang kuat untuk mendidik orang yang berada di bawah kita, sebelum akhirnya kita meletakkan ekspektasi tertentu kepada orang tersebut.

  • inspiration for others

Bagi Pak Subhi, tidak ada sosok khusus yang menjadi panutan untuk menjadi seorang pemimpin. Ia menggali banyak pelajaran berharga dari pengalaman pribadi yang didapatkan seiring perjalanananya dalam meniti karir. Prinsipnya yang selalu dipegang teguh adalah selalu menghargai setiap pekerjaan, sekecil apapun itu, dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Ia percaya setiap bentuk pekerjaan memiliki insight tertentu yang pasti akan bermanfaat suatu saat. Setelah kini ia menjadi sosok seorang pemimpin, nilai-nilai tersebut yang selalu ia tularkan kepada orang yang berada di bawahnya. Selain melalui pengalaman pribadi, hal lain yang menginspirasi Subianto dalam menjadi seorang pemimpin didapatkan dari beberapa buku ternama seperti “Good to be Great” (Jim Collins) dan “7 Habits of Highly Effective People” (Stephen Covey).

credit thanks to Giovani, Ika, Imam, Fajar, Erico.

One thought on “Leadership Passage Part 2: Leading Others and Up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s