Mengoptimalkan EQ Anak

Bismillah,

Ini adalah postingan blog saya setelah saya lulus kuliah, dan sempat bekerja sebentar kemudian memutuskan untuk menjadi full time at home mom saat ini. Karena sebagian besar waktu saya sekarang saya habiskan di rumah bersama anak, alhamdulilah saya bisa mencuri waktu untuk membuka kembali stok buku yang ada. Salah satunya adalah majalah Intisari Extra yang membahas mengenai anak.

Salah satu topik yang saya highlight adalah pembahasan mengenai EQ. Mengapa EQ penting? Bagi saya sangat-sangat penting sekali. Dan terus terang mungkin saya mempunyai tingkat EQ yang cukup rendah (yang saya baru sadari saat-saat ini). Oleh karena itu, saya akan investasikan waktu yang cukup untuk menumbuhkan dan mengoptimalkan EQ anak-anak saya.

Apa sih bedanya EQ dan IQ, kita lihat gambar di bawah ini secara garis besar:

Screen Shot 2018-04-06 at 14.18.26.png

Dikutip dari Intisari Extra edisi November 2014, para psikolog sepakat bahwa kecerdasan seseorang 80% dipengaruhi oleh EQ dan 20% oleh IQ. Dan sebagai orang tua, kita wajib tahu bahwa EQ bersifat abstrak dan tidak dibawa sejak lahir. Oleh karena itu harus ditumbuhkan, dipupuk, dan dioptimalkan.

Bagaimana sih cara menumbuhkan EQ:

  1. Mengenaikan emosinya sejak dini (Emotional First Aid), dikonfirmasi perasaannya “keliatannya kamu marah ya, mohon maaf ya”, “wah kamu seneng banget ya tadi ketemu temen-temen di sekolah”
  2. Menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak, “mama ngerti perasaanmu, sekarang istirahat dan main dulu di rumah ya”
  3. Menunjukan sikap empati, namun tanpa ikut emotional.
  4. Menerima isi hati dan pikiran anak

Segitu dulu rangkuman mengenai optimasi EQ anak. Mudah-mudahan bisa kita praktekan sehari-hari. Ingat, anak cowo boleh kok nangis. Kemudian jadilah kita sebagai tempat curhat yang baik bagi anak. investasi untuk masa depan anak-anak kita.

 

Advertisements

he’s just not that into you

Melihat poster film ini pada tag “coming soon” di bioskop, satu hal yang terbesit dalam pikiran saya, wow! Pemainnya banyak, bagus-bagus. Walaupun sangat jelas, dari judulnya terlihat film ini ber-genre drama romantis seperti halnya Love actually, dengan banyak cerita dan ketekaitan antar pemainnya.

Di awal film, disajikan bentuk pembelaan diri dari semua wanita di belahan dunia manapun, “kalo dia tidak menghubungimu, mungkin dia lupa nomor telponmu, mungkin dia terlalu menghargai keseriusanmu, mungkin dia menghormati kedewasaanmu, dll”. Segala bentuk penyangkalan untuk menghindari ke-tidaksiap-an sakit hati.

Film ini disadur berdasarkan buku, dengan nama judul yang sama karangan Greg Behrendt dan Liz Tucillo pada tahun 2004. Film ini menceritakan beberapa tokoh yang saling terkait. Dipilih tokoh utamanya Gigi (Ginnifer Goodwin), seorang wanita muda yang selalu salah mengerti “sinyal” yang ia dapatkan dari pria-pria yang berkencan dengannya. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan seorang pemilik bar, Alex (Justin Long). Di lain cerita, teman kerja Gigi, Janine (Jennifer Connelly) yang selama ini merasa kehidupan rumah tangganya baik-baik saja mulai menyadari kalau ia hanya menipu diri sendiri, padahal antara ia dan suaminya Ben (Bradley Cooper)sudah tidak ada gairah percintaan lagi. Dan tanpa sepengatahuannya, Ben malah terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita seksi, Anna (Scarlett Johansson), yang ia bantu menjadi seorang penyanyi.

Teman kerja Gigi yang lainnya, Beth (Jennifer Aniston) sebetulnya merasa nyaman menjalani 5 tahun hidup serumah dengan Neil (Ben Affleck) tetapi lama kelamaan ia kesal juga karena Neil tidak kunjung melamarnya.

Drew Barrymore, yang juga sebagai executive produces dalam film ini, tidak mau ketinggalan tampil sebagai Marry, teman Anna yang akhirnya malah jadian dengan Connor, mantan pacar Anna sekaligus juga salah satu pria yang pernah menolak Gigi.

Inti cerita film ini memang sederhana. Namun yang membuat film ini menarik adalah cara untuk memahami bahasa laki-laki yang disampaikan melalui sikap dan ucapan mereka. Banyak wanita kurang bisa menangkap sinyal dari para lelaki atau bahkan pasangannya sendiri. Apakah wanita itu memang the rule or exception? .