Sherlock Holmes detektif ilmiah

Sudah lama rasanya tidak mereview tentang film, karena sudah lama juga saya tidak pergi menonton. Kemarin minggu pertama kali nonton di Blitz Megaplex Teras Kota, BSD. Dan mengaggumkan. Layarnya lebar dan besar, tetapi kursinya memang kurang empuk. Tapi over all, menyenangkan.

Sherlock Holmes adalah tokoh detektif kebangsaan Inggris yang dalam menjalankan aksi-aksinya selalu melibatkan metode-metode dan teori ilmiah (fisika, kimia). Tokoh ini “diciptakan” oleh Sir Arthur Conan Doyle. Dalam film ini, tokoh sang detektif diperankan oleh Robert Downey Jr (aktor dalam film Iron Man). Dalam menjalankan aksinya, dia dibantu oleh sahabatnya, seorang dokter, dr. Watson yang diperankan oleh Jude Law.

Di bagian awal film, disuguhkan seorang penjahatnya, Blackwood, yang sedang menjalankan ritual ilmu hitamnya, membunuh seorang gadis. Sang detektif dan sang dokter berhasil menghentikannya yang kemudian berhasil membawa sang penjahat ke penjara. Sampai akhirnya menjalankan hukuman gantung.

Lord Blackwood adalah penjahat yang selalu meresahkan publik dengan ilmu-ilmu hitamnya yang ingin menguasai Inggris. Kegelisahan masyarakat bertambah, ketika terkuak berita bahwa Blackwood bangkit dari kubur. Dan karena inilah Holmes tertantang untuk memecahkan misteri Blackwood.

Tidak lengkap rasanya, seorang detektif cuek jenaka apabila tidak dikecohkan oleh seorang wanita cantik, sang penggoda sekaligus umpan yang dikirim oleh bos penjahat. Dalam film ini, ada karakter Irene Adler yang dikenal sebagai cinta sejati Holmes, yang diperankan oleh Rachel McAdams. Dan Kelly Reilly bermain sebagai Mary, tunangan Watson yang masa lalunya terkuak oleh penerawangan Holmes.

Film yang diset pada zaman revolusi industri di Inggris membuat film ini terasa klasik mencekam, digambarkan jembatan Londonpun masih dalam tahap pembangunan. Apalagi, penemuan-penemuan analisis sang detektif yang banyak melafadkan teori-teori kimia dan fisika. Semua berasal dari ilmu alam. Di akhir cerita, terbongkarnya misteri Lord Blackwood, ilmu hitam yang fiktip, karena dalam melancarkan misinya, Blackwood sebenarnya memakai cara ilmiah juga.

Advertisements

he’s just not that into you

Melihat poster film ini pada tag “coming soon” di bioskop, satu hal yang terbesit dalam pikiran saya, wow! Pemainnya banyak, bagus-bagus. Walaupun sangat jelas, dari judulnya terlihat film ini ber-genre drama romantis seperti halnya Love actually, dengan banyak cerita dan ketekaitan antar pemainnya.

Di awal film, disajikan bentuk pembelaan diri dari semua wanita di belahan dunia manapun, “kalo dia tidak menghubungimu, mungkin dia lupa nomor telponmu, mungkin dia terlalu menghargai keseriusanmu, mungkin dia menghormati kedewasaanmu, dll”. Segala bentuk penyangkalan untuk menghindari ke-tidaksiap-an sakit hati.

Film ini disadur berdasarkan buku, dengan nama judul yang sama karangan Greg Behrendt dan Liz Tucillo pada tahun 2004. Film ini menceritakan beberapa tokoh yang saling terkait. Dipilih tokoh utamanya Gigi (Ginnifer Goodwin), seorang wanita muda yang selalu salah mengerti “sinyal” yang ia dapatkan dari pria-pria yang berkencan dengannya. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan seorang pemilik bar, Alex (Justin Long). Di lain cerita, teman kerja Gigi, Janine (Jennifer Connelly) yang selama ini merasa kehidupan rumah tangganya baik-baik saja mulai menyadari kalau ia hanya menipu diri sendiri, padahal antara ia dan suaminya Ben (Bradley Cooper)sudah tidak ada gairah percintaan lagi. Dan tanpa sepengatahuannya, Ben malah terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita seksi, Anna (Scarlett Johansson), yang ia bantu menjadi seorang penyanyi.

Teman kerja Gigi yang lainnya, Beth (Jennifer Aniston) sebetulnya merasa nyaman menjalani 5 tahun hidup serumah dengan Neil (Ben Affleck) tetapi lama kelamaan ia kesal juga karena Neil tidak kunjung melamarnya.

Drew Barrymore, yang juga sebagai executive produces dalam film ini, tidak mau ketinggalan tampil sebagai Marry, teman Anna yang akhirnya malah jadian dengan Connor, mantan pacar Anna sekaligus juga salah satu pria yang pernah menolak Gigi.

Inti cerita film ini memang sederhana. Namun yang membuat film ini menarik adalah cara untuk memahami bahasa laki-laki yang disampaikan melalui sikap dan ucapan mereka. Banyak wanita kurang bisa menangkap sinyal dari para lelaki atau bahkan pasangannya sendiri. Apakah wanita itu memang the rule or exception? .