Tempat ibadah (mushola) di Bandara Schiphol Amsterdam

Menunggu kabar suami yang sedang melakukan penerbangan 21 jam itu rasanya lumayan berdebar. Selalu didoakan agar diberi keselamatan sampai tujuan. Alhamdulilah di setiap transit, suami selalu berkabar dan saya tidak lupa untuk selalu mengingatkan sholat. Dimanapun.

 

Tepatnya ketika di transit ke-dua sebelum ke negara tujuan, yakni di negeri Belanda. Alhamdulilah suami bisa menemukan tempat sholat yang nyaman di bandara Schipol Amsterdam. Dan suami berpesan untuk dibagikan di blog pribadi agar bisa membantu sesama muslim khususnya Indonesia yang akan melaksanakan sholat di Schipol Amsterdam.

 

Lokasinya berada di:
    Lounge 2, 2nd Floor (yang sebelumnya di gate 4 tetapi dipindah ke Lounge 2)
IMG_5457
Petunjuk arah menuju Lounge 2
IMG_5458
Petunjuk Arah dari Lounge 2
IMG_5456
namanya Mediation Center

Namun, tempat wudlu-nya berada pada lokasi yang berbeda.

IMG_5451
namanya Feet washing place
IMG_5449
petunjuk tempat wudlu
IMG_5447
pintu tempat wudlu
IMG_5448
kran-nya ada 2, untuk tangan dan kaki
IMG_5446
pancuran khusus untuk kaki

Kemudian, berikut adalah tempat sholatnya, mukena dan alat sholat alhamdulilah sudah tersedia.

IMG_5452
tempat sholat
IMG_5455
tempat sholat
IMG_5453
alat sholat
IMG_5454
tempat penyimpanan sepatu

Alhamdulilah bepergian ke luar negeri Belanda khususnya tidak takut ketinggalan sholat dan mudah-mudahan diikuti juga oleh airport-airport international yang lain.

 

Advertisements

Sekolah Bisnis di Indonesia, antara MM UI dan SBM ITB, pilih mana?

Suami saya baru saja masuk SBM ITB dan saya insyaallah satu semester berjalan menuju kelulusan di MM UI (amin), jadi saya sedikit tahu perbedaan, plus minus di antara keduanya. Saya mengambil MM Marketing di MMUI sedangkan suami mengambil program Blemba di SBM ITB.

  • Program

Keduanya membuka program di Januari dan Juli intake. Jadi untuk masuk di bulan Juli, temen-temen bisa langsung test yang dibuka mulai bulan Maret sedangkan untuk masuk di bulan Januari, temen-temen bisa mengikuti test pada bulan September.

MMUI sesuai dengan namanya Magister Manajemen, program dibuat untuk menjadi seorang manager (fungsional). Program MMUI sendiri terdiri dari kelas pagi dan sore. Masing-masing kelas terdiri dari konsentrasi Pemasaran (Marketing), Keuangan (finance), Operasi, SDM (HR), Keuangan khusus: Resiko, Pasar Modal, dan Syariah serta Aktuaria. Ada juga Manajemen Umum, dimana teman-teman bisa bebas memilih mata kuliah dari berbagai konsentrasi. Masing-masing konsentrasi tersebut memuat kurang lebih 30 siswa maksimum. Dan terdapat satu program MM-MBA yang kerja sama dengan Universitas Grenoble Perancis. Khusus MM MBA semua pengantar menggunakan Bahasa Inggris.

Sedangkan SBM ITB (yang dibahas pada posting ini adalah khusus untuk kelas di Jakarta)  terdiri dari program Entrée, GM (General Manajemen), Blemba (Business Leadership Executive MBA), Glemba (Global Executive MBA). Kelas pagi untuk program Entrée dan GM. Sedangkan Blemba kelas weekend (Jumat, Sabtu dan Minggu) full time dari pukul 08.00 – 17.00. Kemudian program Glemba perkuliahan dilaksanakan di dua negara, karena SBM ITB bekerja sama dengan Aalto yang bertempat di Singapura. Kelas dilaksanakan setiap weekend seperti halnya Blemba.

Berdasarkan pengalaman, pendaftaran UI jauh lebih mudah secara system semua sudah integrated cukup satu url di pendaftaran.ui.ac.id , nomor ID pendaftaran sudah host-to-host dengan berbagai ATM. Semua yang perlu diprint pada saat daftar ulang berada dalam satu system. Sedangkan SBM ITB, beberapa scan dokumen dikirim masih manual by email. Terdapat beberapa ID (kalau tidak salah) dari mulai pendaftaran ujian sampai dengan daftar ulang. Apalagi suami saya kena daftar waiting list, sehingga di-generate ID registrasi yang baru lagi.

  • Kurikulum

di MMUI, untuk konsentasi Pemasaran (Marketing), Keuangan (finance), Operasi, SDM (HR), Keuangan khusus: Resiko, Pasar Modal, dan Syariah serta Aktuaria terdiri dari total 42 SKS dengan rincian 30 SKS mata kuliah umum dan 12 SKS untuk matakuliah sesuai dengan konsentrasi. Sehingga kita sebagai siswa akan mendapat dua identitas kelas, kelas umum (biasanya diberi id dengan alphabet A, B, F, G, H, I) dan kelas konsentasi (PP pemasaran pagi, PS pemasaran sore, KP keuangan pagi, KS keuangan sore, dst).

Di MMUI, perkuliahan dilakukan senin – kamis. Setelah 7 minggu (7 kali pertemuan) langsung UTS kemudian kuliah lagi dengan pengajar yang berbeda dan terakhir UAS. Bentuk ujian tergantung pada silabus masing-masing mata kuliah, ada yang berupa take home paper atau exam, atau berupa presentasi baik kelompok maupun perorangan. Oiya karena kuliah full day dari pagi sampe sore, siangnya dapet makan siang gratis lho ^_^.

Untuk lebih detail mengenai kurikulum MMUI bisa dilihat di sini.

Sedangkan SBM ITB, khususnya Blemba total SKSnya adalah 36 SKS (beda 6 SKS dengan MMUI). Satu program dimasukan dalam satu kelas satu angkatan. Contohnya kelas suami saya Blemba 21 terdiri dari 50 orang dalam satu kelas.

Agak shock melihat jadwal kuliah Blemba SBM ITB. Jadi perkuliahan dimulai Jumat, Sabtu, dan Minggu. Setengah hari Minggu langsung UTS :O. Kemudian kembali lagi dua minggu di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Setengah hari Minggu langsung UAS. Seperti itu berulang setiap mata kuliahnya. Satu mata kuliah, ujian, lanjut dengan mata kuliah lain. Berbedanya dengan MMUI, Senin-Kamis terdiri dari berbagai macam mata kuliah.

Untuk lebih detail mengenai kurikulum Blemba SBM ITB bisa dilihat di sini.

  •  Lokasi dan tempat perkuliahan

Semua perkuliahan MMUI dilaksanakan di kampus UI Salemba. Setiap mata kuliah setiap kelasnya bisa ganti-ganti ruangan, misalnya untuk mata kuliah ekonomi di ruang A, mata kuliah akuntansi di ruang B seperti itu, kecuali MM MBA yang mempunyai kelas khusus. Sedangkan di SBM ITB Jakarta, program Blemba. Ruang kelas hanya satu, untuk 50 orang untuk berbagai mata kuliah. Lokasinya saat ini di Gedung Indorama Kuningan.

Berdasarkan pengalaman saya, ruang perkuliahan dan interiornya jauuuuh lebih bagus ITB. Hahaha. Design-nya lebih modern, minimalis dan rapi. Sedangkan di MMUI, banyak ruangan yang lama dan tua T_T. Menyusul saya berikan foto beberapa ruangan di keduanya.

  • OSPEK (masa perkenalan mahasiswa)

MMUI ospeknya ada indoor dan outdoor. Indoor dilaksanakan di kampus MMUI Salemba, sedangkan outdoor dilaksanakan di FEB UI Depok selama dua hari T_T. Terus terang pelaksanaan ospek MMUI masih mirip-mirip seperti s1, ada kelompok, yel-yel bahkan diminta untuk berjualan.

Lain halnya dengan ospek SBM ITB, Ospek dilakukan (rata-rata) tempat wisata, waktu suami saya ke Resort Putri Duyung Ancol. Acaranya pun bisa terbilang lebih “dewasa”, dengan nuansa outbound atau team building seperti gathering kantor. Dan hanya dilakukan satu hari saja, beres.

  • Biaya

Saya akan membandingkan biaya program MM UI kelas malam peminatan (bukan MM MBA) dengan program Blemba SBM ITB.

Biaya BOP MMUI Rp 8 juta. Dan SPP pe semester Rp 24,3 juta (untuk kelas malam) selama 4 semester, sehingga total Rp 8 juta + (4 * Rp 24,3 juta) jadi 105,2 juta.

Biaya Blemba SBM ITB = Rp 10 jt (confirmation fee) + Rp 25 juta (semester 1) + Rp 10 juta (semester pendek) + Rp 25 juta (semester 2) + Rp 25 juta (semester 3), sehingga total Rp 95 juta.

Jadi berdasarkan Program, Kurikulum, Lokasi, Waktu dan Biaya?? Kira-kira mana yang pas dan cocok buat temen-temen? ^_^

 

Execution: How to overcome problems

Konsep kepemimpinan, baik itu memimpin diri sendiri dan orang lain, harus selalu diwujudkan dalam bentuk eksekusi nyata. Seorang business leader biasanya merancang plan untuk menghasilkan suatu result. Result akan dicapai dengan adanya disiplin dalam execution. Suatu nilai-nilai perusahaan (core value) tidak akan terlihat wujudnya tanpa  adanya execution.

Execution merupakan major job bagi seorang business leader. Dalam memecahkan suatu problem atau permasalahan diperlukan execution yang persistence. Berikut merupakan tiga langkah eksekusi dalam apabila menghadapai suatu masalah.

Concept.
sumber : toddneilsen.com
  • gather all facts

Langkah pertama adalah mengumpulkan semua fakta dan informasi yang jelas dan benar, tidak semua fakta atau informasi terkait, oleh karena itu pastikan bahwa fakta dan informasi tersebut benar. Informasi atau fakta yang benar akan menjawab sebagian besar pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari adanya permasalahan. Stage ini merupakan tahap awal sebagai diagnosis sebelum aksi penyelesaian dilakukan. Apabila terjadi kendala atau fakta dan informasi yang dikumpulkan tidak tepat, maka besar kemungkinan langkah selanjutnya tidak akan tepat sasaran.

  • find implications

Langkah kedua yaitu mencari implikasi. Permasalahan timbul tentu ada sebab, mencari hal-hal yang menjadi penyebab utama (root cause) dan selesaikan pada titik root cause tersebut. Tidak lupa juga apakah suatu titik mempunyai implikasi pada titik lain atau kepada pihak lain baik internal maupun eksternal (client, vendor, dll).

  • choose options

Langkah terakhir yaitu memilih opsi penyelesaian. Seorang leader tidak hanya fokus pada penyebab utama (root cause) tetapi harus mencari, memilih, dan memutuskan cara penyelesaiannya. Keputusan terkadang harus diambil secara cepat, disosialisasikan kepada tim secara efektif. Apabila problem terkait technical, sebaiknya merujuk pada acuan standar, sedangkan apabila problem terkait dengan pengendalian dan people merujuk pada best practice yang berlaku.

Leadership Passage Part 2: Leading Others and Up

Setelah pembahasan leadership bagian pertama, saatnya masuk bagian bagaimana menjadi seorang leader bagi orang lain, baik tim dan keluarga. Salah satu tokoh leadership yang pernah kami wawancarai, yakni Pak Subhi, beliau adalah seorang leader di suatu konsultan akuntasi, menyatakan bahwa semakin tinggi jenjang karir seseorang, seiring dengan semakin berat tanggung jawabnya baik secara personal maupun profesional.

Dalam kehidupan personal, ditandai dengan memenuhi peranan dan tanggung jawab sebagai seorang suami/istri, ayah/ibu, dan anak; dan di saat yang sama, di tempat bekerja dituntut untuk mampu bertanggung jawab secara baik kepada stakeholders (atasan, bawahan, rekan kerja, klien) yang jumlahnya semakin banyak.

Jenjang karir yang semakin tinggi ke atas tidak hanya membawa peran dan tanggung jawab yang lebih banyak, tetapi juga tantangan yang lebih besar. Jika di awal masa kerja, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengelola suatu pekerjaan atau proyek tertentu (managing project), maka seiring dengan meningkatnya jenjang karir, tantangan utama yang dihadapi bergeser menjadi bagaimana mengelola orang lain (managing people).

Tantangan yang berbeda tentunya harus dihadapi dengan skill dan kemampuan yang berbeda pula. Berbeda dengan ketika menghadapi tantangan mengelola suatu pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan hard/job skills, seperti kemampuan dan pengetahuan teknis tentang bagaimana pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan baik dan benar, tantangan dalam mengelola orang (managing people) lebih banyak membutuhkan soft skills seperti kemampuan berkomunikasi dan keahlian interpersonal. 

Tantangan yang muncul menjadi semakin kompleks ketika jenjang karir terus meningkat ke atas. Pada posisi yang lebih tinggi, tidak saja tantangan dalam mengelola orang yang harus dihadapi, tetapi juga tantangan dalam mengelola konflik (managing conflicts).

Posisi yang lebih strategis umumnya juga akan menempatkan seorang pemimpin dalam interaksi yang lebih intensif dengan pihak eksternal (dalam hal ini klien), dan sering kali menuntut pemimpin untuk mampu menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan klien dan pencapaian tujuan perusahaan (managing clients). Benturan kepentingan antar pihak, baik internal maupun eksternal akan semakin sering terjadi, dan seorang pemimpin harus mampu memandang kondisi tersebut sebagai hal yang bersifat konstruktif.

leadership-mountain-climbing
Lead by Example source : lifeatwalsh.com

Beberapa tips yang telah Pak Subhi sharing kepada kami, bagaimana menjadi seorang leader dalam menjalankan managing people, antara lain:

  • passing knowledge

Menurut Pak Subhi, kepemimpinan (leadership) adalah tentang bagaimana meneruskan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain yang berada di bawahnya (passing the knowledge). Subianto masih ingat betul bagaimana dulu sebagai pendatang baru di dalam tim nya, ia mendapat begitu banyak bimbingan dan arahan dari para senior serta manajer yang membuatnya seperti saat ini. Pada akhirnya, di posisi sebagai seorang pemimpin kini, Subianto merasa bahwa memberi bimbingan dan arahan seperti apa yang pernah ia dapatkan dulu menjadi tanggung jawabnya pula untuk diteruskan kepada bawahannya, sembari memastikan bahwa ilmu dan pengalaman yang ia miliki dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

  • holding hands and nurturing

Pak Subhi menyatakan bahwa selalu ada pengalaman pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Bercermin pada apa yang pernah dialaminya dulu, ia sangat memahami bahwa setiap anak buahnya yang melakukan segala sesuatu untuk pertama kali, perlu mendapat arahan dan bimbingan terlebih dahulu. Menurutnya, dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kemauan yang kuat untuk mendidik orang yang berada di bawah kita, sebelum akhirnya kita meletakkan ekspektasi tertentu kepada orang tersebut.

  • inspiration for others

Bagi Pak Subhi, tidak ada sosok khusus yang menjadi panutan untuk menjadi seorang pemimpin. Ia menggali banyak pelajaran berharga dari pengalaman pribadi yang didapatkan seiring perjalanananya dalam meniti karir. Prinsipnya yang selalu dipegang teguh adalah selalu menghargai setiap pekerjaan, sekecil apapun itu, dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Ia percaya setiap bentuk pekerjaan memiliki insight tertentu yang pasti akan bermanfaat suatu saat. Setelah kini ia menjadi sosok seorang pemimpin, nilai-nilai tersebut yang selalu ia tularkan kepada orang yang berada di bawahnya. Selain melalui pengalaman pribadi, hal lain yang menginspirasi Subianto dalam menjadi seorang pemimpin didapatkan dari beberapa buku ternama seperti “Good to be Great” (Jim Collins) dan “7 Habits of Highly Effective People” (Stephen Covey).

credit thanks to Giovani, Ika, Imam, Fajar, Erico.