Belajar berbagi

Hari ini Afni kedatangan teman sekelasnya dulu ketika di TK. Seharian Afni main bersama temannya. Memang kalau bermain bersama teman sama-sama cewek terkadang banyak drama. Keduanya saling bersikukuh pendapat maupun rebutan mainan. Atau idenya siapa yang harus diikuti. Siapa yang harus ikut.

Di awal sesi bermain semua berjalan lancar, walaupun ada sedikit rebutan. Kegiatan bermain lego, membuat isi cerita, kemudian menggambar, makan bersama. Namun, entah mengapa di menjelang sore ada saja hal yang direbutkan. Entah itu Afni yang tidak sabar, teman yang mungkin malu-malu untuk mengungkapkan keinginan.

Akan tetapi setidaknya hari ini Afni sudah mencoba belajar berbagi main berdua bersama sahabat yang sama-sama perempuan. Dimana tingkat ego-nya bisa sama-sama diuji. Kecerdasan emosionalnya belajar.

Semangat ya Afni.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Advertisements

Aliran rasa tantangan level 2 (kemandirian)

Akhirnya kata-kata ini tertulis. Setelah sebuah tantangan yang kedua terlewati. Sebuah milestone yang ternyata bisa dilakukan saat melatih kemandirian kepada anak.

Seperti yang telah saya tulis di sini bahwa kesabaran, persistence, growth mindset dan menasihati berdasarkan pengalaman merupakan kunci keberhasilannya.

Setelah melewati periode tantangan ini, seharusnya tetap konsisten dilakukan untuk milestone perkembangan kemandirian selanjutnya. Tentunya dengan memoerhatikan kesiapan dan kematangan usia anak.

Kemandirian bisa dalam bentuk latihan fisik yang terlihat seperti memakai baju dan celana sendiri. Akan tetapi bisa juga berupa kemandirian dalam hal sadar diri akan kewajiban dan tugasnya terutama tugasnya untuk belajar.

Selain untuk anak, kemandirian juga diterapkan kepada saya sebagai istri. Menjadi istri yang mandiri, bisa diandalkan, tangguh. Agar tidak lembek tergerus zaman, agar bisa kuat menjadi pendidik bagi anak-anaknya, agar bisa berdiri dalam kesetaraan.

Istri dan ibu mandiri

Saya jadi teringat salah satu tweet dari ustad yang cukup terkenal, tentang apabila wanita kuat, mandiri, dan tidak bergantung, maka jarang ada laki-laki yang mau. Dan sontak, twit tersebut mendapat banyak protes. Terutama bagi wanita.

Apa wanita harus lemah, tidak mandiri, dan bergantung pada pria? Hehe. Dan ini sangat bertolak belakang dengan prinsip suami saya.

Dari semenjak menikah saya dituntut untuk mandiri. Tidak sedikit-sedikit minta diantar dll. Harus bisa mengurus segala urusan sendiri. Waktu itu saya ingat ketika kami tinggal di Singapura. Saya bekerja walaupun parttime. Saya bisa kemana-mana sendiri walaupun di negeri orang tidak bersama suami saya. Termasuk untuk mengurus visa dan ke dokter kandungan.

Begitu pula setelah pulang ke Indonesia. Saya lebih memilih ke dokter atau swalayan di hari kerja karena lebih sepi dan pergi sendiri. Suami saya memaksa saya bisa menyetir mobil, supaya pergerakan saya bisa luas dan tidak banyak bergantung pada orang lain.

Kemudian, terkait masalah pengaturan keuangan keluarga, suami saya mempercayakan 100% untuk mengelola keuangan dan belajar bagaimana menjadi manager keuangan bahkan investasi. Semua dilakukan agar bisa menjadi istri dan ibu yang mandiri.

Mungkin terdengar kurang romantis. Karena kebanyakan dilakukan sendiri. Namun, apabila masih bisa dilakukan sendiri dan ada waktunya kenapa tidak?

Ayo mama, jadilah ibu dan istri yang hebat, kritis. Tidak terkikis oleh zaman.

Faiz lulus memakai celana sendiri

Setelah 10 hari menjalani tantangan anak kemandirian. Faiz alhamdulilah sudah terbiasa memakai celana sendiri. Yang paling terpenting adalah kordinasi antara mata, tangan, dan kakinya mulai terbiasa. Walau saya kadang-kadang perlu mengawasinya. Posisinya masih perlu sambil duduk. Agar Faiz tidak kesulitan saat harus mengangkat satu kaki sedangkan kedua tangannya memegang celana.

 

Sedangkan untuk memakai baju sendiri, Faiz masih kesulitan mencari lubang bajunya untuk tangan. Begitu juga untuk celana yang tergolong kaku dan tebal seperti celana jeans panjang.

 

Tantangan 10 hari ini memang menyenangkan. Seperti yang tadinya saya masih terlena dengan kebiasaan memakaikan celana kepada Faiz. Tapi ternyata Faiz bisa. Apabila saya tidak mencoba, bisa dapat dibayangkan ya.

 

Surprise yang under expectation

Selepas ngaji sore tadi, anak-anak mulai masuk ke rumah karena sebentar lagi adzan magrib. Namun, kebiasaan sepulang ngaji menyalakan TV, jadinya waktu sholat jadi mundur. Karena mereka meminta makan sambil menonton TV. Apabila diminta untuk sholat terlebih dahulu. Alasanya adalah lapar.

 

Jadwal harian setelah jam 6 adalah sholat, makan, dan nonton TV. Jam 7 sudah mulai mengerjakan PR. Akan tetapi karena tidak ada jadwal tidur siang dan pagi-pagi harus bangun kembali. Jam 7an itu mereka sudah mulai mengantuk. Sesi mengerjakan PR ini adalah ujian terberat untuk saya selain sesi menyiapkan sekolah. Mengapa? Karena harus pintar cari ide menjaga mood anak tetap semangat dan happy kala mengerjakan tugas. Terkadang mereka merasa demotivasi, merasa kecapean, stres, menyerah. Saya gemaaas sekali. Kalau sumbu sabar tidak panjang, bisa-bisa keluar kata-kata dengan nada tinggi. Sight :(.

 

Tadi malam, sebelum sholat saya bilang “Mommy punya kejutan buat Afni, nanti dikasi kalo PR sudah selesai ya”. Afni setuju. Setelah makan, langsung menanyakan mana hadiahnya? Saya jawab nanti abis PR. Setelah sholat juga menanyakan kembali, saya jawab “tunggu ya mommy makan malam dulu”. Afni malah makin cranky “aaah kalo aku bosen aku bisa marah-marah gimana kalo aku marah-marah?”. Hmm.. tahan nafas dan sabar.

 

Akhirnya, saya luluh juga hadiah diberikan setelah saya makan. “Ayo apa hadiahnya?”, saya buka kulkas dan tunjukan es krim matcha kesukaannya. Wajahnya langsung cemberut “i thought it was a toy”. Saya coba bujuk lagi “Coba dl ini kan kesukaan Afni, yuk makan bareng-bareng biar moodnya bagus lagi”.

 

Alhamdulilah setelah makan es krim bareng-bareng, senyumnya terbuka lebar, pelukan lagi. Dan siap mengerjakan PR. Ganbatte!!!!

 

IMG_5535

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#instiutibuprofesional

Mendelegasikan tugas kepada Kakak Afni

Kakak Afni yang sekarang berusia 6 tahun dan masuk kelas 1 SD, alhamdulilah secara emotional sudah cukup dewasa. Sudah bisa diberi kepercayaan tugas. Asalkan permintaanya jelas, dan ketika selesai tepati apabila kita berjanji. Contohnya, “Kakak tolong titip adik, mommy mau lari sore dulu, kalau mau telp pencet tombol yang ini, dan mommy akan pulang 30 menit lagi”. Maka pastikan kita mudah dihubungi dan tepat janji pulang di 30 menit kemudian.

 

Selain itu, Kakak sudah mulai bisa dipecayakaan mengambil barang apabila ada kurir atau abang gojek tiba mengantarkan paket. Sudah tidak malu apabila harus berbicara pada orang. Terkadang kakak juga sudah bisa cuci piring hehe.

 

Kakak Afni sudah pintar juga main dan jaga adik ketika di playground. Biasanya mommy-nya pergi ke gym dan anak-anak bermain di playground. alhamdulilah selama ini berhasil juga ditinggal di playground. Kalau soal tanggung jawab akan sholat, PR, dan mainan bekas pakai masih harus diingatkan kembali.

 

Jadi tidak ada salahnya mulai mempercayakan sebagian tugas kepada kakak. Dengan kunci perintah yang jelas singkat dan tepati janji kita apabila kita menjanjikan sesuatu di akhir tugasnya.

 

IMG_4520

 

Komitmen pada jadwal harian

AFNI_S DAILY SCHEDULE icon
Kakak Afni mulai memasuki SD, dan mempunyai kegiatan rutin harian. Dari mulai bangun pagi sampai tidur kembali. Beberapa waktu yang lalu kita sempet diskusi mengenai jadwal hariannya dia. Jadwal harian sudah dibuat, disepakati. Namun pelaksanaannya terkadang masih belum komit. Misal mamanya bisa jadi molor waktu karena masak kelamaan, sehingga waktu makan malam jadi mundur.

 

Aktivitas yang membutuhkan komitmen tinggi yakni mengerjakan PR dan kumon. Subhanallah. Butuh amat sangat extra sabar dalam mengingatkan, membimbing, menemani Afni dalam mengerjakan PR ini. Terkadang juga terbawa emosi karena kemalasaannya, yang ada aja alasannya.

 

Pada posting kali ini terkait komunikasi produktif. Terkadang saya perlu memutar otak untuk membuatnya in mood mengerjakan PR. kalo mood saya lagi baik. Kalo mood saya lg jelek, terkadang intonasi dan perkataan tidak dijaga. Menyesal memang. Tapi itu cara shortcut agar didengar dan dilaksanakan oleh Afni.

 

Selain PR, yang menjadi tantangan adalah mengingatkan untuk sholat. Ada saja alasannya apabila diminta untuk sholat apabila anak tidak in mood. Jalan pintasnya ancaman lagi. Akan tetapi saya selalu ingatkan bahwa sholat adalah perintah Allah tiang agama, berlatih dari sekarang karena memasuki usia 7 tahun, ayah boleh memukul anaknya menggunakan 3 lidi di kakinya apabila anak tidak mau sholat.

 

Mudah-mudahan dengan adanya kelas komunikasi produktif ini bisa memperbaiki cara saya berkomunikasi dengan anak. walaupun masih harus banyak belajar dan perbaikan. Teruatama mengendalikan emosi dan mood.