Kelas 1: Peralihan dari konkrit ke abstrak

Usia balita atau pra-sekolah, anak-anak cenderung masih berfikir secara sederhana. Sesuatu konsep dikenalkan secara konkrit dan dengan bahasa yang sederhana. Begitu juga cara kita mengenalkan konsep matematika. menggunakan benda konkrit dan belajar hitung satu per satu.

Afni, di usia menuju 7 tahun sudah masuk SD. Karena masih tergolong periode awal pendidikan dasar, maka materi matematika yang Afni dapatkan di sekolah masih setengah ke konkrit dan menuju ke abstrak.

Sebagai contoh, kebetulan kemarin mendapat PR matematika berupa penjumlahan dua digit dengan simpanan di angka puluhan. Bukunya menjelaskan secara detail dan dilengkapi gambar. Tujuan agar anak lebih mudah dalam membayangkan.

IMG_9567

 

Konsepnya ternyata cenderung mudah untuk Afni, hingga bisa mengerjakan soal latihannya sebanyak 6 soal 1 menit selesai. hehe. Tetap semangat ya Afni.

#harike7
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Advertisements

Kurikulum Matematika kelas 1 SD

Saya terkadang begitu takjub dengan kurikulum anak SD zaman now. Mungkin lebih cepat 2-3 tahun dari pelajaran kita di zaman old. Saya kadang kasihan juga melihat Afni dengan segudang kegiatannya. Hanya bisa berdoa, mudah-mudahan bisa kuat dan bisa compete dengan teman-temannya. Walaupun bukan yang paling unggul, tapi setidaknya Afni bisa mengikuti pelajaran di kelas.

Awal-awal masuk kelas 1, Afni memang agak stres karena dia termasuk anak yang belum bisa baca. Alhamdulilah, atas kuasa Allah dan kerja keras Afni, di term ke-dua sudah bisa membaca, bahkan bisa mengerjakan soal-soal ujian. Dengan nilai yang alhamdulilah, jauh di atas ekspektasi saya.

kembali ke bahasan kurikulum. Anak SD kelas 1 mulai mengenal pengurangan, penjumlahan dua digit dalam soal cerita baik itu yang menggunakan konsep simpan puluhan maupun tidak. Kemudian, sudah dikenalkan terhadap konsep lebih besar, lebih berat, lebih banyak. Membaca jam (0’clock). Kemudian shape sorting dan deret tiga bilangan.

Saya juga masukkan Afni ke les kumon, namun karena hitungannya lambat. Jadi malah lebih cepat pelajaran di sekolah dibanding worksheet di kumon. Hanya saja, kumon sangat membantu Afni bisa hitung dengan cepat. Tapi harus saya diskusikan lagi dengan guru-nya di kumon, karena harapan saya, Afni bisa catch-up pelajarannya di sekolah melalui kumon.

 

#harike6
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

 

 

Stimulus matematika untuk Faiz (4,5yo) (3)

Ini masih di hari yang sama saya bermain dengan Faiz. Mendapati Faiz bisa good mood dikala sakit dan masa penyembuhan ini ternyata agak sulit untuk diajak bermain sambil belajar.

Waktu itu, kami sempat bermain imajinasi dengan bangun ruang seperti limas, prisma, dan kubus dengan menggunakan magno former. Pada dasarnya Faiz belum bisa bermain logika dengan menggunakan magno former. Bahkan untuk merakitpun masih harus saya bantu. Sisi satu menempel dengan sisi mana yang benar.

Faiz memang lebih menyukai sesuatu yang bergerak (bola, mobil-mobilan). Kemudian, kemarin 6 bulan belajar di kumon, Faiz setidaknya sudah bisa mengenal bilangan sampai ratusan dan mengucapkannya kembali. Untuk area penjumlahan setidaknya dia sudah bisa menjumlah sampai di angka 5 hehe. Masih harus lebih semangat lagi men-stimulus Faiz.

 

#harike5
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Stimulus Matematika untuk Faiz (4,5yo) (2)

Masih seputar stimulus matematika, teruntuk anakku Faiz (4,5 yo). Saat ini Faiz kondisinya sedang tidak fit. Tertular batuk pilek demam dari Kakaknya. Kakaknya sudah mulai sembuh, sekarang bergilir ke Faiz. Menjadi resiko mempunyai anak dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh. Rentan tertular virus yang sama.

Kembali kepada stimulus matematika. Baru kemarin ini saya bisa “bermain” dan mengajak Faiz untuk aktif bermain kembali. Walaupun masih terlihat lemas. Kemarin, kami masih bermain-main dengan mainan lama. Salah satunya sorting dan pukul bola, kemudian bola tersebut bisa menabrak pin.

Stimulus yang dilakukan:

  1. mencocokan warna lubang dengan bola
  2. bola bergerak dan harus menjatuhkan pin (selayaknya main bowling)
  3. pin yang berbeda ukuran, mengajarkan Faiz konsep besar, sedang, dan kecil.

 

img_9515.jpg

Seperti yang sempat saya ceritakan pada postingan sebelumnya, Faiz menyukai sesuatu yang bergerak (kinestetik) saat dia belajar. Sehingga, walaupun mengajarkan matematika harus diikuti oleh sesuatu yang bisa bergerak.

Semangat, Faiz.

#harike4
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Stimulus Matematika untuk Faiz (4,5yo)

Sewaktu Kakaknya masuk les kumon, sebetulnya Faiz ikut-ikutan nih. Ikutan Kakaknya. Ternyata hanya kuat sampai 6 bulan saja. Masuk ke banyak menulis dan hitung pertambahan mulai menyerah. Ya apa boleh buat, masa mau tetap saya paksakan.

Faiz menyukai sesuatu yang bergerak dan visual, mungkin akibat keseringan nonton youtube. Tapi video yang ditonton itu Hijaiya, Number in arabic, nama-nama sayur, nama-nama ikan, dinosaurus, sayur dan buah. Dan semuanya dihafal. Dan hafal semua. Apabila diberikan stimulus visual, Faiz mudah menghafalnya. Begitu juga apabila diberikan kumpulan huruf yang membentuk menjadi kata, sehingga ketika ditanya “ini apa?” sebetulnya bukan karena Faiz sudah bisa baca, tapi karena Faiz hafal kumpulan simbol huruf itu menjadi (dibaca) kata tertentu.

Kemarin, Faiz memainkan kembali mainan-mainan lamanya. Termasuk puzzle jam. Dalam memainkan puzzle, Faiz masih harus berurutan dari angka 1-12. Kemudian membaca jam-nya masih belum tahu konsep menit, 1 jam 60 menit. Ketika jarum pendek ke angka 6 dan jarum panjang ke angka 11, Faiz masih menyebutkan jam 6-11. Tidak apa-apa ya Faiz, pelan-pelan nanti belajar konsep waktu.

Begitu juga dalam mengenal nama-nama hari. Faiz baru bisa membedakan siang – malam, hari ini –  besok. Setiap kali sebelum tidur selalu ditanyakan “Besok ada apa, ma? Besok hari apa?”. Faiz hanya tahu weekend dan weekday. Weekend saatnya Faiz boleh main game di nitendo switch sama Bapak.

img_9519.jpg

#harike3
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

 

 

Menyukai matematika

Alhamdulilah kuliah bunda sayang ibu profesional memasuki bulan ke-6. Setengah jalan perjuangan. Tema kali ini mengenai menumbuhkan kecintaan anak pada matematika. Walaupun matematika itu luas dan ajaib. Tidak hanya berbentuk angka dan hitungan. Kita pelan-pelan harus memoerkenalkan pada anak.

Anakku yang pertama, sudah SD kelas 1, tentu sudah mengenal angka secara abstrak. Sehingga mudah untuk diajarkan perhitungan. Sayapun mengajak dia utk mengikuti les matematika (dan bahasa inggris) yang banyak PR nya itu. Alhamdulilah bisa membantu.

Lain halnya dengan si adik, yang masih berusia 4 tahun. Pada mulanya senang mengikuti les tersebut karena masih sangat fun hanya membuat garis, bentuk, dan menebalkan angka. Akan tetapi ketika masuk ke penjumlahan, tampaknya semangatnya kendor. Hehe. Ya tidak apa2, mungkin belum waktunya, atau mungkin gaya belajarnya berbeda dengan kakaknya.

Saya sendiri, sangat menyukai pelajaran matematika sewaktu di bangku sekolah dulu. Selama 3 tahun di SMA, nilai matematikanya selalu mendapat nilai 9 di raport. Mungkin hal itu pula yang membuat saya bisa diterima PMDK di IPB jurusan ilmu komputer. Padahal secara ranking hanya masuk 10 besar saja.

Ayo kita tingkatkan lagi kesukaan matematikanya. Terutama yang lebih menantang stimulus matematika utk si adik. Semangat.

#harike1

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

All time favorite book

Buku color monster ini favorit banget. Bentuknya pop up book. Bercerita tentang emosi dan sangat lucuuu karena bentuknya monster.

Saya pernah bacakan buku ini dulu sewaktu menjadi guess teacher di kelas Faiz playgroup.

Buku ini cukup membantu Faiz dalam mengenalkan emosinya, bagaimana kalo senang, sedih, takut, marah, kalem, dan cinta.

#Day10

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingstoChangeIMustChangeFirst