Generasi Sandwich

Apa sih generasi sandwich, berdasarkan moneysmart.id, generasi sandwich adalah mereka yang memiliki beban finansial dalam mengurus orangtua atau anggota keluarga lain sekaligus membesarkan anak sendiri.

Bagai roti sandwich, generasi ini “terhimpit” oleh dua kewajiban tersebut.

Saya adalah termasuk di dalamnya.

Harapan saya terhadap pengenalan literasi financial planning untuk saya dan financial sejak dini pada anak, salah satunya adalah untuk memotong generasi sandwich tersebut. Agar anak-anak saya juga bisa fokus dengan keluarga dan masa depannya. Begitupun saya dan suami bisa menikmati hari tua dengan tenang, insyaAllah (apabila ada umur).

Saya sangat mengerti, kondisi dan latar belakang keluarga saya dan suami. Kami berasal dari daerah, saya dari Jawa Barat dan suami dari Jawa Timur. Pergi ke Jabodetabek (tinggal di Depok dan bekerja di Jakarta) merantau tanpa bantuan orang tua secara financial (insyaAllah kalau doa orang tua selalu menyertai).

Generasi Kakek-Nenek kami adalah generasi baby boomers, pasca kemerdekaan. Dimana tidak ada lagi perang, rakyat hidup dengan kebanyakan bertani maupun pedagang. Dan saat itu belum dikenal dengan KB. Hingga Kakek-Nenek bisa mempunyai anak 8 sampai bahkan 12 anak. Kondisi ekonomi pasca kemerdekaan masih cukup sulit, bagi kami orang daerah. Ibu/Bapak saya SMA tidak sampai lulus. Karena biaya pendidikan harus berebut dengan adik-adiknya.

Ibu/Bapak, dengan pengetahuan yang mereka miliki, dengan kondisi yang terbatas menghidupi saya dan adik. Alhamdulilah, tanpa perencanaan keuangan, saya dan adik bisa sekolah, bisa bekerja di kota (Jakarta). Bisa sampai pada titik saat ini.

Harapan saya memang ingin meneruskan generasi yang lebih baik. Saya sekolah sampai master, saya banyak belajar agar bisa mewarisi ilmu untuk anak-anak. Yang kelak akan menciptakan generasi di bawahnya.

Lalu, bagaimana strateginya menghadapi sandwich generation yang saya alami saat ini.

Pertama, siapkan dana kebajikan orang tua setiap bulan selalu masukan pada anggaran bulanan.

Kedua, daftarkan mereka BPJS kesehatan, dan bantu proses pembayarannya. Ini akan sangat bermanfaat.

Ketiga, alhamdulilah saya dan suami selalu mendahulukan orang tua disaat kita mendapat rezeki lebih. Ketika bonusan, bayar dahulu haji mereka. Ketika THR, sedekahkan dahulu kepada orang tua dan saudara yang membutuhkan di kampung halaman.

Keempat, jaga perasaan, jaga nama baik, bersyukur, dan ikhlas. Rezeki tidak hanya selalu berupa materi. Rezeki sehat, rezeki iman islam, rezeki lingkungan sholeh tidak bisa dinilai dengan materi.

Pengenalan uang pada anak

Di sekolah Afni, karena siswa SD kelas 1-3 masih belum diperbolehkan jajan di jam makan snack maupun jam makan siang. Akan tetapi, sesekali ada kegiatan bazaar. Biasanya yang mengadakan bazaar kakak kelas 5 SD. Kemudian, guru akan memberitahukan sebelumnya agak ananda diberi bekal maksium 15ribu.

Atau ketika ada acara open house, dimana anak-anak diminta oleh guru untuk membuat kerajinan sesuai dengan tema yang ditentukan. Hasil kerajinan tersebut akan dijual kepada tamu yang datang saat open house.

Sedangkan pengenalan untuk infaq biasanya dihimbau membawa uang setiap hari Jumat. Tapi mamanya suka kelupaan hehe.

Untuk anak TK, ada juga study trip ke swalayan, hehe, pernah dua kali ke supermarket Ramayana dan ke Total Buah. Anak-anak diminta memilih buah atau makanan yang akan dibeli dan diberi uang kemudian melakukan pembayaran di kasir. Lucu-lucu.

Yang masih menjadi PR adalah mengenalkan sistem ekonomi. Bagaimana kami sekeluarga mendapatkan uang (rezeki), mengapa ayah harus bekerja, dan masih banyak lagi. Karena terkadang, anak masih belum mengerti ketika diberi jawaban “mama belum punya uang lagi, nak..”, jawabannya pasti “kan masih bisa ambil di ATM”. Ya kaliii ATM bisa diambil unlimited hehe, mama juga mau :)).

 

Bawa Bekal atau jajan

Saya tinggal di komplek perumahan dan sangat jarang terdapat warung, yang ada warung jual galon dan gas. Itupun kalo ditempuh jalan kaki bisa 5-10 menit sekali jalan. Sehingga hampir dipastikan anak-anak tidak pernah jajan di warung dekat rumah.

Oleh karena itu, mungkin saya yang telat juga mengenalkan uang pada Afni. Yang sudah kelas 1 SD ini tetapi belum mengenal nominal uang. Di sekolahnya pun, siswa kelas 1 sampai kelas 3 SD belum diperbolehkan untuk jajan. Setiap jam makan snack dan makan siang diwajibkan membawa bekal dari rumah (atau catering).

Kemudian kapan anak-anak jajan? Kalau kebetulan saya pergi ke mini market ketika ada sesuatu yang harus dibeli. Atau ketika kita jalan-jalan ke mall untuk beli makan dan jajan es krim.

whatsapp-image-2019-04-29-at-11.26.59-pm.jpeg

Terkadang saya coba mendorong mereka untuk pergi ke kasir dan melakukan pembayaran. Hari ini saya coba tekankan untuk meilihat nominal harga dan nominal uang yang dibayar. Misalnya membeli yakult seharga 9000, saya beri uang 10.000 maka mereka akan mendapat kembalian 1000 rupiah. Hal ini cukup mudah dipahami karena masih terhitung matematika sederhana.

Teruslah belajar anak-anakku, belajar tidak hanya di sekolah. Belajarlah dari sekitarmu.

#Ibu Profesional Bunda Sayang Level 8 Tantangan 10 Hari

Mengenalkan uang dan ekonomi pada anak

Saya masih perlu membiasakan dalam mengenalkan uang serta harga-harga barang. Terkadang Afni masih kebingungan membaca nominal karena nol-nya terlalu banyak. Akan tetapi pelan-pelan coba saya kenalkan kembali.

Dulu dan sampe kemarin, saya jarang sekali perhitungan terkait belanja. Jarang saya catat. Dan benar saja, banyak bolongnya. Hingga tagihan kartu kredit muncul terus setiap bulan. Tetapi beberapa bulan ini saya konsisten dan rajin catat. Walhasil tidak ada tagihan, tidak kekurangan uang saat akhir bulan, lebih bisa mengerem keinginan untuk berbelanja, sangat paham kondisi dompet setiap saat (karena selalu saya catat).

Saya ingin, kesalahan saya dulu tidak terulang oleh anak-anak. Inginnya setiap kali anak punya keinginan untuk membeli sesuatu, sesuai budget, dan anak bisa menghitung sendiri nominalnya. Pernah saat merengek sekali meminta mainan hanya karena melihatnya direview oleh youtube anak, dan harganya tidak sedikit. Tapi apa daya, saat itu Bapaknya yang membelikan. Saya buat perbandingan “Afni, mainan ini kalau dibelikan susu bisa sampai 4 dus susu nih, banyak banget, jadi mainan ini tidak murah.”.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Afni sudah mulai bisa mengerti dan memilah hatinya antara keinginan dan kebutuhan. Tadi siang, Afni mengerti bahwa bulan ini Afni membutuhkan membeli sepatu. Dibanding dengan membeli mainan. Dan saya ingatkan Afni, sepatu yang lama yang kekecilan, sudah bisa dihibahkan kepada saudara-saudara.

 

Budgeting Management

Sebagai istri yang kebetulan mendapat amanat untuk melakukan budgeting bulanan keluarga, tentunya setiap awal bulan akan terasa lebih sibuk. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat plot budget sebulan ke depan menggunakan bantuan excel. Sudah dari tahun 2014, saya rutin melakukan hal ini. Kemudian, setelah dikonsep hingga semua uang mempunyai pos-posnya masing-masing. Saya pindahkan pada aplikasi mobile YNAB.

Screen Shot 2019-04-27 at 22.41.49

Saya sendiri masih terus menyesuaikan membagi kategori pengeluaran. Awalnya untuk makan digabung dalam super market dan entertainment weekend seperti makan di luar. Sekarang coba saya pisahkan sehingga pengeluaran hanya untuk makan sebulan bisa menghabiskan berapa.

Screen Shot 2019-04-27 at 22.40.25
parent category

Dari kategori besar di atas, saya bagi lagi menjadi kategori kecil-kecil lagi total kategori kecil saya ada 85 kategori (masyaAllah hanya ingin lihat dengan detail kemana biasanya kita menghabiskan uang).

Screen Shot 2019-05-01 at 07.06.42
contoh detail category
Screen Shot 2019-05-01 at 07.06.50
contoh detail category

Kemudian, setiap kali ada pengeluaran saya catat dengan detail seperti ini:

Screen Shot 2019-05-01 at 07.04.07

  • Date: tanggal pengeluaran
  • Payee: toko atau orang yang kita bayar, contoh: supermarket giant
  • Category: pilih kategori atau untuk pos mana pengeluaran ini, kemudian nanti secara otomatis akan mengurangi jatah uang di kategori tersebut. Pada aplikasi ini satu kali pengeluaran bisa di-split menjadi banyak kategori. Misal saya bayar SPP anak digabung ke dalam satu nomor rekening transfer misal Rp 100, akan tetapi saya pisahkan kategorinya (SPP Afni Rp 60 dan SPP Faiz Rp 40).
  • Memo: catatan lain untuk memudahkan kita
  • Outflow: pencatatan keluar dana
  • Inflow: pencatatan pemasukan (ada piutang atau turun gaji)

Dan secara garis besar berikut adalah persentase budgeting per kategorinya:

Screen Shot 2019-05-01 at 07.01.22

Besar kecil rezeki itu kehendak Allah SWT, yang penting bisa berkah didapatkan secara halal dan diperuntukan secara halal juga. Yang terpenting hidup tidak berlebihan sesuai dengan kemampuan. Karena roda selalu berputar, mungkin saat ini kami berkecukupan namun tidak menutup kemungkinan apabila Allah berkata lain. Bersyukur tetap kuncinya.

 

 

Mendidik anak cerdas financial sejak dini

Masuk ke bulan delapan kelas bunda sayang. Subhanallah bulan ke bulan topiknya semakin menantang dan semakin membuka cakrawala saya terkait ilmu parenting. Alhamdulilah saya saat ini diberi kesempatan bergabung juga dengan tim dapur kelas minat financial planning IP Depok. Selama ini, cukup concern terhadap financial literacy keluarga, kerana memang menjadi kebutuhan. Suami mempercayakan pengaturan keuangan keluarga diserahkan kepada istri.

Akan tetapi, pada tantangan bulan ini, titik berat literasi keuangan justru dikenalkan kepada anak. Sungguh benar-benar membuka pikiran saya. Yang selama ini belum sama sekali mengenalkan konsep uang pada anak. Padahal Afni sudah masuk SD dan Faiz sudah di TK.

Hal yang paling penting adalah membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Walaupun saya tetap menetapkan pos mainan pada amplop budget bulanan kami, tetap harus dikelola emosinya untuk membedakan keinginan dan kebutuhan.

 

Pengelolaan emosi saat ini masih berupa kesabaran. Anak-anak mulai dikenalkan bahwa rezeki datangnya dari Allah, melalui Bapak anak-anak. Bapak bekerja akan mendapatkan upah / gaji dari hasil kerjanya. Dan dibayar sebulan sekali. Akhirnya ampir setiap minggu, bangun tidur Faiz bertanya “hari ini Daddy gajian belom?” hahaha nak.. nak..